Jalan Menuju Resepsimu

October 14, 2009 at 8:17 am | Posted in hari-hariku | 7 Comments

Sudah jam 10 malam, masih bercengkrama via YM dengan sahabat kecil saya, Rini. Saat itu ibuku memanggil, memberitahu bahwa pagi tadi anis, teman adikku, datang mengantarkan undangan pernikahan Pipit. Kuterima undangan tersebut dari beliau. Berwarna hijau daun, warna favorit Pipit, teman SMA ku, yang juga akhirnya menyusul berkuliah ditempat yang sama. “Alhamdulillah”.

 

Kubuka undangan tersebut. Kemudian mengetahui bahwa acara akan dilangsungkan tanggal 10 Oktober 2009, di rumahnya, daerah gas alam. Segera saya memberitahu Rini, yang saat itu sedang chat dengan saya.

Me: Rin… catet yaaa…. Pipit 39 nikah…

Segera ku ketik alamat yang tertera di undangan tersebut. Dan tidak berapa lama Rini membalas.

Rn: mer, tanggal 10 kan besok…!

Niat untuk datang sore hari ke resepsi terpaksa  mundur menjadi lepas magrib. Karena sehabis pulang karaoke sore itu, hujan mengguyur deras kota Depok. Hingga kami harus mengantri taxi cukup lama. Sesuai rencana, sebelum ke resepsi dari Margo kami transit dulu ke rumah saya, untuk berganti pakaian, sholat, dan setelah rapi berangkat ke tujuan.

Tidak berapa lama setelah Maghrib, Taxi pesanan datang. Kami berangkat ke gas alam. Menurut peta dari perempatan karet, kami harus belok kanan sampai menemui masjid An-Nur, dan kemudian belok kiri di jalan Kapitan 1. Semudah itu.

Perempatan karet dilewati, sesuai peta kami belok kanan, untuk kemudian memasuki daerah yang minim lampu jalanan, dengan jalanan yang ibarat gigi perlu ditambal. Dalam situasi tersebut kami bertiga agak ketar – ketir, beberapa gang kami lewati, dan beberapa janur pun sudah kami lewati.

“Mer kapan sampenya ini kita… kita gak salah kan?” seru Ulfa.

“Kagak Fa… kata petanya kalo udah nemu mesjid…. Baru belok ke jalan kapitan 1” seruku. Walau sebenarnya agak ragu juga.

“Nah ini mesjidnya mba” kata pak supir, saat taxi kami melewati mesjid yang cukup besar.

“Oo.. bener ini mesjid An-Nur pak?” tanyaku.

“Bener Mer…” kata Rini sambil melihat nama mesjid.

“Ntar.. kita belok kiri pak, di jalan kapitan 1… “ kataku lagi.

Tidak berapa lama kami menemukan belokan ke kiri.

 

“ini belokannya? Tapi nama jalannya gak kliatan” tanya pak supir.

Yah, mungkin Pemkot Depok lupa menaruh lampu jalan diarea tersebut. Hingga kami harus mendekatkan diri ke kaca Taxi untuk melihat papan nama jalan berwarna hijau yang cat tulisannya sudah memudar berkarat, dan ternyata bertuliskan kapitan III.

“bukan pak, ini kapitan III” kata Rini, yang memang duduk dipinggir kiri.

Taxi kami melaju, tidak berapa jauh dan kami menemukan gang kapitan I. Semoga tidak jauh lagi.

 

Jalan kapitan I hanya cukup untuk satu badan mobil dengan kondisi jalan yang sebagian masih tanah merah, tak beraspal. Kondisi habis hujan membuat jalanan menjadi licin dan becek. Selain lampu mobil, penerangan jalan hanya berasal dari rumah-rumah penduduk. Itupun jarak antar rumah sekitar 10 – 20 meter. Selebihnya hanyalah lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut, cocok untuk lokasi film horor. Sepi.

 

 “Buseeet… horor banget yaaa…” seruku.

“Iye.. ntar kalo didepan mobil tiba-tiba ada yang bangun gimana? … …. …. mana Mer tempatnya” Timpal Ulfa.

“Mana gw tau Fa, kata petanya kita terus aja…” kataku sambil berfikir, ini jalanan kenapa belum berujung?

“Mana penerangannya cuma lampu rumah…” tambah Rini.

“Waduh horor banget dah ni tempat…”

“Untung deh Mer… Pipit nikah cuma sekali…” tambah Rini lagi.

Dalam hati saya melafalkan ayat kursi.

 

“Mer… mana Mer tempatnya…” tanya ulfa, tepat sebelum Jalanan Kapitan 1 mentok, dan akhirnya kami melihat tenda besar berwarna hijau.

“itu kali Fa tempatnya” Pedejaya saya menjawab, hanya karena tendanya berwarna hijau.

Tak yakin bisa pulang dengan selamat dan aman dari gangguan makhluk halus, sebelum turun kami  pun berpesan pada pak supir.

“Pak, tungguin kita yak… 30 menit aja… bapak juga kalau mau ikutan masuk untuk makan juga silahkan…” Permohonan kecil yang langsung diiyakan oleh pak supir. Kami yakin, pak supir juga takut untuk keluar gang sendirian, dam melewati jalan sepi nan menyeramkan tadi.

Paman temanku bilang kalau suatu tempat itu bisa dikatakan sebagai kota, jika dan hanya jika jalanannya sudah diaspal. Semoga Pemkot Depok bisa segera membenahi infrastruktur sebagian ‘desa’nya yang belum beraspal.

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wakakka untung gw ga ikut mer

    • hehehe…. bisa tambah serem ya yel… 😛

  2. pdhal sih sayang bgt yelli ga ikut, srasa naik arung jeram dgn kondisi jln yg gradakan, genangan air dmn2, tp qtanya aman ga bakal kena air krn d dlm taxi, hihihi…

  3. rini..rini….huahahaha ‘untung pipit nikah cuma sekali…’

  4. Huahaha…meris..meris….kirain, akhir ceritanya salah tempat, karena merisnya lupa ..hihi…eh..ternyata bener juga ya ;p (ngga papa ya mer, inget kataku kan “uniq!”). Yah..mer, koq ceritanya gantung sih😥..lanjutin dung,,apa kek…meris dapet insipirasi apa gitu after dari nikahan pipit, atawa ibroh apa getoh..heheheh ^^…..ditunggu ya, pembaca setia mu (halah..halah..)

  5. Halah emank hoby nyasar aja lo mer… waktu k rumah gw juga nyasar khan…? ckakakakakak…

  6. Wah..pengalaman seru tuh mer. …
    Alhamdulillah..akhirnya sampe juga ya….
    Pasti Pipitnya seneng banget tuh, ada sahabat ya bela2in dateng ke resepsi dia dengan sgl daya dan upaya. Hehehe..
    Nanti kalo aku undang, meris jangan sampe ngak dateng ya ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: