Situasi Angkot Tak Menentu

August 11, 2009 at 1:42 am | Posted in hari-hariku | 12 Comments

Senin 100809. Lepas Isya aku pamit dari kos sahabatku. Perjalanan Kalibata ke Pasar Minggu, kutempuh dengan menumpang metromini 604, bayar dua ribu rupiah, dan seperti biasa jalanan macet. Lancarnya jalan raya Pasar Minggu, benar-benar bisa kuresapi saat aku pulang dari kantor jam 00.30 a.m. Selebihnya, belum pernah lagi terasa selenggang itu. Kunikmati saja jalan yang tersendat dengan membaca sebuah novel. Membaca dengan pencahayaan metromini yang meremang.

Metromini menyusuri underpass pertama Pasar Minggu, aku turun sebelum metromini itu memasuki underpass kedua. Turun dan beralih ke angkot 129 jurusan Pasar Minggu – Mekarsari, ku duduk di paling ujung, tempat favoritku kalo ngangkot, kalau tidak diujung belakang, ya depan sekalian. Angkot pun berangkat. Tak sadar sudah sampai daerah Lenteng Agung. Penumpang hanya tinggal bertiga saja. Aku, dan dua orang muda-mudi yang sedang asyik makan lengkeng dengan mesra.

Dari Lenteng Agung, jalan menuju Depok padat merayap. Sama dengan kedua muda-mudi didepanku yang tangannya mulai merayap ke satu sama lain. Untunglah aku tidak ikut dirayapi. Selama mereka saling merayap, mataku juga merayapi kata demi kata dalam novel 9 Matahari, yang menurut ku terangkai indah.

Lama-lama aku gerah juga, melihat reality show didepanku. Kubuka kaca angkot lebar-lebar, berharap fikiranku menjadi dingin. Kusempatkan melempar senyum kepada pasangan tersebut, saat ku buka kaca, dengan tujuan mereka agak keki dan sadar ada aku disitu. Tapi mereka tidak menggubris. Aku juga tidak terus-terusan tersenyum pada mereka, aku takut mereka berprasangka buruk dengan menyangka aku gila. Tau diri saja. Lanjut aku membaca, dengan merubah posisi dudukku, dari serong kiri, menjadi lurus menghadap ke pasangan tersebut.  Novel yang kubaca sangat indah tutur katanya, membuatku tersenyum. Setiap aku tersenyum, aku sempatkan melihat ke pasangan tersebut, agar mereka bertambah keki. Kurubah kembali gaya dudukku, menjadi serong kiri, dan menyenderkan kepala ke kaca angkot, biar terkesan sangat menikmati membaca buku. Pasangan tersebut, tetap saling merayapi.

Agak risih memang. Ditengah kerisihan tersebut, ada seorang pengendara motor, yang menatapku mungkin bukan aku yang ia lihat, tapi pemandangan didepanku. Demi kesopanan, aku cengengesan ke pengendara motor tersebut. Yah sekilas kulihat ia menjadi agak sedikit bingung. Tapi tidak apa, toh senyum itu adalah sedekah. Kondisi padat merayap, tangan merayap, dan mata merayap, kunikmati selama hampir satu jam perjalanan dari Lenteng Agung ke UI. Segera ku ketahui akar masalah kemacetan ketika melewati UI, sebuah keluarga yang tinggal dipinggir jalan sedang berduka ternyata. Setelahnya, jalanan menuju pulang pun lancar.

Ah pasangan itu, belum menikah ternyata, namun sudah pandai merayap. Kaso rumah ku yang lupa dilapisi antirayap, keropos karena dirayapi, yang kemudian aku ganti.

12 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. True story mer? ada bukti foto ato rekaman video kah? Luthu ngebayangin tingkah lo…🙂
    gw suka kalimat ini “Ah pasangan itu, belum menikah ternyata, namun sudah pandai merayap. Kaso rumah ku yang lupa dilapisi antirayap, keropos karena dirayapi, yang kemudian aku ganti”.

    • yap true story ril… yah ril, lu tau kan hape gw skarang pegimane… pengen gw potret tuh padahal…

  2. suruh nikah d t4 aja tuh, tinggal panggil penghulu ma bpknya si cewe, hahahhahaha….

    • lalu aku dan supir angkot menjadi saksinya… gitu rin….

  3. huehehehe 9 matahari-nya jdi tamat ga? jgn2 enggak gara2 ada rayap2 saling merayap…

  4. hahaha..bener mer..suka ada orang yang begitu. inget dulu ada yang cerita, pernah tilawah di taman tempat orang pacaran, dan semua yang pacaran itu pada kabur. jadi kalo ada lagi yang kayak gitu..mungkin paling ampuh kalo kamu ngeluarin qur’an dan tilawah disitu. hehehe ;p

  5. huh..para rayap mmg suka mengganggu..

    Usir saja para Rayap itu Mer! ^,^

  6. jadi napsu. merayap juga ah di eingkets kapan2…

    • jangan lupa direkam ya neng…

  7. pare… merayap keik di video klip nya Reza yang dulu2 itu yah? beuh… eits, wa mau ngasih selamat buat Ibu Pare ini, sudah menjadi Sarjana ekonomi… ditunggu makan2nyah…

  8. Hello..

    Kenapa Angkot Merisk???
    2/3 tulisanmu ada Angkotnya.
    Kau pernah kebelet pipis di Angkot
    Pernah baca gelap-gelap di Angkot.

    Inssyaf Tuan…Bertaubatlah…
    Angkot bukan satu-satunya wahana di DKI

    Hmm…tapi oke juga tuh nomor jurusannya.
    jadi pengen ke Ibu kota – Nostalgia

    Salam

    • Hehehe, iya ya, tidak tersadar, naik angkot memang banyak kenangan indahnya ^____^ …

      kenapa angkot? karena itu transportasi yang paling sering saya gunakan pak…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: