Slumdog Millionaire

March 11, 2009 at 9:09 am | Posted in Review | 17 Comments

Berawal dari sebuah status di Facebook, yang menyatakan keinginan untuk menonton Slumdog Millionaire, dan dikabulkan oleh seorang Bunda yang sangat baik hati. Terimakasih Bunda ^_^!

 

Slumdog Millionaire, kukira hanya sebuah film india underdog yang tidak menarik untuk dilirik sekalipun. Menjadi tertarik ketika adikku berkata film ini bagus. Jarang-jarang adikku mengatakan suatu film bagus, dan dengan lancar menceritakannya kembali. Kemungkinannya cuma satu, film ini sangat bagus dan sangat berbekas di alam sadarnya.

Slumdog Millionaire, menceritakan seorang Jamal, penyaji teh, di sebuah perusahaan komunikasi, yang menjadi peserta Who Wants to Be a Millionaire. Namun, kecurigaan pembawa acara akan ketepatan Jamal menjawab, membawa Jamal pada kamar tahanan. Dan kemudian, dipaksa mengaku bahwa Jamal menjawab semua pertanyaan tersebut secara curang.

Slumdog MillionaireCerita bergulir dengan alur flash back, disetiap Jamal menjawab pertanyaan mulai dari pertanyaan pertama sampai dengan pertanyaan terakhir. Tidak perlu menjadi pintar, untuk mengetahui suatu jawaban, hanya karena tahu. Tiap pertanyaan menguak latar belakang getir kehidupan Jamal semenjak ia kecil.

Pertanyaan pertama, mengingatkan masa kecilnya yang indah bertemu Amita Bachan dengan cara yang sangat “unik”. Diceritakan Jamal, yang dikunci oleh kakaknya di WC umum. Awalnya ia tenang-tenang saja ditinggal di wc umum, sampai terdengar suara massa meneriakkan nama idolanya, Amita Bachan, yang baru saja turun dari helicopter. Jamal berusaha untuk keluar dan akhirnya meloloskan diri dengan cara ‘nyemplung’ ke kolam tinja di bawah WC. Dengan berlumuran tinja, ia pun berlari menyeruak massa yang mengerubuni Amita Bachan. Dengan cara yang special itulah ia mendapat tanda tangan Amita Bachan.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya kemudian mengungkap getir masa kecil Jamal. Kegetiran dimulai saat terjadinya kerusuhan antara warga hindu dengan muslim, yang memakan banyak korban, termasuk ibunya. Kemudian, Jamal dan kakaknya Salim, hidup berkelana bersama seorang anak gadis bernama Latika. Mereka bertiga hidup tidak jelas di Tempat Pembuangan Akhir, sampai suatu saat ada orang yang memungut mereka.

Ternyata mereka dipungut oleh gembong anak-anak jalanan. Mereka sengaja mengambil anak-anak tak bertuan untuk kemudian diakomodir menjadi pengamen jalanan, tukang minta-minta dsb. Gembong ini menyisir setiap bakat anak-anak yang mereka pungut, untuk kemudian dilihat mereka pantasnya dipekerjakan sebagai apa. Dan karena keindahan suaranya, seorang anak akan dibutakan matanya oleh mereka, untuk kemudian dilepas dijalan untuk dikasihani dan bernyanyi. Salim yang mengetahui kekejaman gembong ini, mengajak kabur Jamal dan Latika. Sayangnya Latika tertinggal.

Beranjak dewasa Jamal dan Salim, belajar mengenal uang, dan bagaimana mencarinya dengan cara yang cepat. Mereka tumbuh bersama anak-anak lain menjadi penipu, pencuri ulung, yang terkoordinasi dengan rapi. Merasa cukup, dengan bekal hidupnya, Jamal berniat untuk kembali ke kampong halamannya, mencari cintanya Latika. Walaupun menentang, Salim tetap menemani adiknya itu. Sampai akhirnya mereka menemukan Latika remaja, yang dididik dengan sangat untuk menjadi wanita penghibur.  Jamal pun berniat menyelamatkan Latika dari tangan gembong jahat tersebut. Jika saja Salim tidak menembak mati ketua penjahat tersebut, mungkin pelarian mereka hanya terhenti dalam niat. Namun arogansi Salim pulalah yang akhirnya memisahkan perjalanan hidup dua saudara tersebut.

Jamal yang diusir oleh Salim, akhirnya tumbuh menjadi remaja yang sopan, dengan pekerjaan yang pantas sebagai penyaji teh di perusahaan komunikasi India. Di suatu waktu, Jamal berkesempatan mengecek saluran telpon yang ada untuk mencari Latika dan Salim. Ia menemukan Salim, dan bertemu dengannya. Salim tumbuh besar menjadi kaki kanan mafia India. Pertemuan dengan Salim, membawa Jamal pada Latika, yang telah menjadi gundik mafia tersebut.

Film ini secara apik menuturkan, bagaimana cara seseorang menyikapi masalah dalam hidup, akan berpengaruh dalam kedewasaan seseorang untuk memilih jalan hidupnya. Salim dengan arogansinya, dewasa dalam kegelapan hidup yang cukup mewah. Jamal dengan kejujuran dan ke-naif-annya, dewasa dalam hidup yang bersahaja.

Menonton Slumdog Millionaire, saya teringat akan anime “The Grave of Fireflies” yang ceritanya sangat kuat dan menyentuh. Bedanya, Slumdog Millionaire menyajikan akhir cerita happy ending.  

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sugoi..jadi pngen nonton deh.btw,happy endingnya dmn? jamal kan ditangkap..

  2. udah ada yang punya film originalnya?

    btw kok bisa menang OSCAR ya?

    apa keunggulannya yak?

  3. kan pernah di bahas dimilis sama Bung-Aan, knp dia dapet oscar…

  4. aef, kalo aku ceritakan mpe abis, untuk apa kamu nonton… ntar ga menarik lagi….

  5. meris…gw benci sama lo…..huhuhuw….

  6. Film2 sederhana ternyata menyimpan juga kekuatan. Udah pernah nonton “Before Sunset” dan “Before Sunrise”-nya richard linklater? (yg maen ethan hawke dan julie delpy). Itu film independen yg sederhana dan (menurut gw) bagus. Untuk komedinya coba deh ntn “Idiocracy” (yg maen luke wilson). Komedi sindiran berbagai kebobrokan dunia. Kena banget sindirannya. Film Indonesianya coba ntn “Sang Murabbi”-nya zul ardhia (yg maen astri ivo, irwan rinaldi, neno warisman). Full otokritik yg cerdas dan sarat hikmah.

    Blom lama di amrik diadakan festival film Palestina lho… syg sekali gw gak sempet ke amrik.. ada kerjaan di kantor (huueeeekkss……)

  7. @ linda: benci… benci… benci… tapi rinduw… juaa….
    @ tomy: gw blm pernah nonton smua film yang lu sebut… sepertinya pelemnya idealis smuah… ^___^

  8. yang tiba-tiba ditodong suruh ngasih komen…..

    mba meriss berani banget dah nonton the grave of fireflies, say mah ndak berani, sediiiiiiih, ntar meweek gak berenti-berenti lagi…maklum orang berhati lembut…khi..khi…khi…

    akhir-akhir ini lagi males banget nonton film dari barat, mending dari timur aja dah, terutama asia timur, kemarin baru nonton film korea yang bagus banget,yang ngambil masa PD II, cerita tentang prajurit perang korut dan korsel yang ketemu di desa terpencil, yang sama sekali nggak kena imbas permusuhan dua negara ini… akhirnya mereka belajar hidup damai, dan mati-matian (dalam arti sebenarnya) memperjuangkan kedamaian desa yang akhirnya merek cintai…sedih juga…tapi tetep bikin seneng….karena judulnya korea jadi lupa..khi..khi

    slumdog millionaire…. film asia juga ya (asia tengah), jadi pengen nonton..

    (komentar panjang nggak nyambung)
    (^^)v pisss

  9. Mer..untung elo tetap bertahan & gak tergiur sama jalan2 di mall instead of slumdog millionere. Kayak Bunda bilang, Meris : Slumdog ato tidak sama sekali !!!!

  10. @ Duwik: hehehe… gw setelah nonton grave of fireflies, jadi ga tega kalo makan ga abis. Gw juga jadi sayang sama yang namanya nasi.
    @ Mba renna: cihiy… di komen mba renna… hehehehe… itu namanya kita teguh pendirian… hehehe…

  11. Hebat deh Meris bisa mengupas scr detail dan runtut. Aku aja yg 2x nonton blm tentu bisa…mungkin krn umurku 2xnya Meris ya.. Sengaja ngajak early dinner dulu sblm nonton Slumdog Millionaire, krn kalo hbs liat Jamal nyemplung pasti pd gak nafsu makan. Atau gak ngaruh ya? Hehe…

  12. hehe…. ngaruh bu… buktinya: ga ada satu orangpun dari rombongan yang menghabiskan popcorn manisnya pada saat ituh…

  13. “Somebody give me question, then them give me answer”

    – Jamal Malik, Slumdog Millionaire –
    Dear Merisk,

    Aku sdh nonton film ini. Sama dg adikmu, film ini memang bagus and bikin org tdk sadar dialam mana dia berada.

    Itu bkn teh Merisk. India tdk punya kebun teh. Teh hanya tumbuh di Cibodas dan Cililitan. Yg terlihat spt larutan senyawa gula jawa yang dicampur kuning telur rebus. Minuman ini menjelaskan mengapa pria Bombay “kuat dan perkasa” sedangkan wanitanya begitu “lincah dan bergairah”. Lihat aja, film mrk lebih maju dibanding kita.
    (Jgn berfikir yg tdk dua dan bukan dua, bkn film itu yg sya maksud).

    Dia memang office Boy, tapi bukan bekerja di perusahaan komunikasi. Itu warnet biro jodoh. Sya pernah ketempat spt itu di Depok deket stasiun UI, kalau diatas jam 10 malam tarifnya murah.

    Hai Merisk, apa menurutmu saya mirip Amitha Bachan? Baiklah kalau enggak mirip, tapi setidaknya dia yang mirip saya ^_^

    Regards,

    I. Rokhim

  14. fansku yang tertokek…. sangat jelas personifikasi dirimu dari nickname yang kamu buat…. ^____^
    becanda yaaaaaaaaa….. no offense please

  15. Upin : “Tak payalah Merisk…kita orang yang coneng. Buat apa tersinggung. Betul kan, Ipin?”

    Ipin : ” Hmm…Betul! betul! betul!, tak baik tersinggung-singgung.”

    ( Upin & Ipin – Pagi Raye )

    Hai Merisk,

    Personifikasi milikmu terasa seperti sarkasme buatku. Ini hanya soal ungkapan majas yang tepat bukan yang lain. Terkadang memang kita dibingungkan oleh potongan nugget ayam dengan ubi goreng, kita menjadi tahu setelah memakannya.
    Saya enggak bermaksud mengatakan Indonesiamu tidak sebaik bahasa Inggrismu.

    Merissa Elmahda,
    Begitu Tipis, Begitu Ironis

    Regards,

    I. Rokhim

  16. dear tokek…

    maafkan kekhilafan saya karena berlebihan dalam canda…

    salam,

    Meris
    -begitu tipis, begitu manis-

  17. before sunset, before sunrise.. two thumbs up,Mer! Nonton deh..

    aku pertama kali nonton yg before sunrise,,nah pas before sunset aku baru nemu CD nya pas dah nikah..sayang hadi trtidur lelap pas nonton tuh pelem..

    soalnya dia sukanya ‘cartoon’..hix
    i like cartoon..but i also like “smart romantic” movie..huhehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: