Lihat KebunKu Penuh dengan Bunga

February 23, 2009 at 10:59 am | Posted in Uncategorized | 11 Comments

Sabtu (140209) kemarin, gw jalan-jalan dalam arti denotatip. Bener-bener JALAN JALAN. Sudah sejak seminggu, gw dan teman-teman berencana untuk jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Pilihan jatuh ke Kebun Raya Bogor (KRB) karena:

  1. Mas dhanang pengen liat bunga Bangkai
  2. Achi, pengen makan di kafe DeDaunan
  3. Gw, pengen minta ditraktir (hehehehe gak mutu banget motivasi gw)

Setelah mengajak dan membujuk, akhirnya yang positif akan ikut adalah Mas Dhanang, Achi, Yanu, dan Pare (my sis), hanya berlima. Kiki secara tentative menyatakan ingin ikut, tapi gak tau jadi apa nggaknya. Aan, setelah gw panas-panasin bahwa di KRB dia akan menemukan teman seperBungAan seperti bunga Bangkai, tetap teguh pada pendirian untuk lembur di hari sabtu (poor you). Eril tidak bisa ikut karena ada rencana menyiksa diri untuk kecantikan (facial). Dan Anjas, lagi-lagi tak bisa ikut karena terdampar di Balongan. Tadinya gw mo ngajak Rini (temen SD ku) untuk ikut, tapi beliau sudah ada acara.

Direncanakan rombongan KRB bertemu di stasiun PoCin jam 10 pagi, agar sesampainya di Bogor sekitar jam 11. Paginya gw menyempatkan diri berolahraga dengan Rini di UI dari jam 7 pagi, main Badminton dibawah naungan gerimis hujan, so romantic. Gw main sampai jam sembilan lewat. Tadinya mau lanjut lagi, tapi angin pada saat itu sangat kencang, sampai air didanau pun beriak. Karena kita berdua malas mengejar shuttle cock yang selalu melenceng, akhirnya kita memutuskan untuk selesai dan rapi-rapi. Gw dan Rini lanjut ke MUI (Mesjid UI) untuk melepas lelah dengan dhuha.

Sekitar jam 10, setelah mengontak keberadaan teman-teman,  ternyata mereka sudah pada sampai di stasiun Pocin, kecuali Pare. Hal pertama yang membuat gw kaget-sekaget-kagetnya di stasiun adalah ada AAN. Bukannya status kemarin, dia masih bersikeukeuh untuk weekend dibelakang monitor dan meja kerjanya? Kok bisa-bisanya ada disini? Pantes aja tadi pagi gw gak menemukan YM-nya online, kalau online, gw sengaja pengen manas-manasin lagi pake bubur buah bogor karena dia gak bisa ikutan. Niat gw itu gak buruk kok, cuma pengen berbagi rasa senang aja bisa jalan-jalan waktu weekend, hehehe. Hwaa… jadi tambah seru ni kalo ada BungAan ^___^ xixixixiixixixi

Ternyata Kiki juga jadi ikutan jalan-jalan, padahal sampai kemarin sore, jawabannya adalah tidak bisa ikut, karena ada urusan keluarga. Hehehe, ini pasti karena bujuk rayu gombal dari Mas Dhanang. Salut gw ama mas Dhanang, paling bisa ngajak Kiki jalan. Sayangnya gw, Achi, Yanu, Kiki, dan Aan, belum bisa berangkat dari PoCin, karena Pare belum tiba. Ada dimana sih tu bocah? Tadi pagi jam 8, Mas Dhanang sudah berusaha sampai menyerah untuk bangunin Pare via telepon. Terakhir gw telpon (jam 9), si Pare sudah dalam kondisi sadar, dan akan siap-siap. Mas Dhanang sendiri menunggu kami di stasiun Depok Lama. Aduuuh Pare lo kemana siii (pengen gw tendang deh kalo dia dateng).

Gw segera menghubungi Pare dengan nada sangat KESAL. Ugh, ternyata dia masih baru mau berangkat dari rumah OMIGOD, pengen gw jitak mpe bothaak tu anak, bikin malu gw aja (>_<). Kira-kira 15-20 menit kemudian, setelah menunggu dengan kondisi resah, Akhirnya Pare Datang Juga. Yang menyebalkan, udah telat, dia dateng tanpa membeli tiket…. Booo’ menurut lo??? Udah telat tau diri napa neng, beli tiket sendiri. UUggggh, bener-bener pengen gw bina(sakan) ni anak. Sabar… sabar… Dan sekian detik setelah membeli tiket pare, kereta ekonomi menuju Bogor tiba di stasiun Pocin. Benar-benar tipis.

Mas Dhanang, memasuki kereta yang sama dari stasiun depok lama, kedatangan Mas Dhanang melengkapi rombongan kami saat itu. Perjalanan pun menjadi tambah seru. Hehe… Walaupun gw agak sedikit khawatir dengan Kiki  dan Pare, karena mereka belum sarapan. Gw pasti bingung juga kalau ada yang tiba-tiba pingsan.

Perjalanan pocin Bogor sekitar 45 menit. Dan sesampainya di Stasiun Bogor, ada kejadian yang sangat ‘menarik’. Hehe, Mas Dhanang dengan mengaku sebagai calon caleg, menarik ibu-ibu untuk naik ke peron stasiun, yang memang agak tinggi. Lucu banget, ibu-ibu yang dibantu Mas Dhanang terlihat pada mesam-mesem, gw yang ngelihat sampai gak sanggup menahan ngakak. Mas Dhanang ini emang temen gw yang paling ahli menarik wanita, mulai dari anak TK mpe oma-oma. Sampai-sampai Mas Dhanang pada saat itu, menyatakan ingin jadi menteri pemberdayaan kaum hawa. Duile Mas Mas…

Dari stasiun Bogor, rombongan istirahat dulu di foodcourt pasar depan KRB. Lumayan lah, untuk menyesap our welcome drink, walaupun tempatnya tidak bisa dibilang cozy, apalagi suara penyanyi karaoke yang melantunan lagu-lagu cinta disana sama sekali tidak merdu. Setelah menanti cukup lama, kami disana makan cukup lahap dan kekeluargaan. Hekekeke, rasanya si kurang se-enak masakan bundo eril, tapi kalo lapar sih abis-abis ajah.

Setelah mengisi perut, kami lanjut ke KRB, hehe, dimulai dari belajar membaca peta, lalu jalan sebentar, berhenti, foto-foto, jalan lagi, berhenti, foto-foto, foto-foto, yup… sampai masuk waktu dzuhur, kegiatan kita cuma diisi dengan berjalan kaki dan foto-foto. Banyak banget foto fenomenal yang diambil dengan gaya fotografer yang sama fenomenalnya. Niat awalnya, kita jalan-jalan dulu menuju bunga bangkai, tapi karena kekurangpahaman kami, jadilah kita jalan-jalan menuju café dedaunan.

Namun karena perut baru diisi bakso, kami terus berjalan kaki di KRB, dan pastinya foto-foto. Menariknya adalah, apapun akan dilakukan teman-teman untuk menghasilkan foto yang bagus, mulai dari rela berfoto di pohon berkecoak, loncat-loncat bego ala Charlie Chaplin, melompati batang pohon tidur seperti di Nias, bergaya putri duyung di atas aspal, sampai rela turun ke kali untuk foto diatas batu (ampun deh Yanu, kalo anyut kan gawat).

Rombongan KRB

Rombongan KRB

Setelah puas jalan-jalan kita makan-makan (dan juga foto-foto) di kafe dedaunan. Makanan disini enak, harganya terjangkau, dan yang paling dahsyat adalah ES KELAPA MUDAnyah, beuh taste like heaven, seger banget gitu loch. Dan gak terasa, waktu sudah hampir petang. Setelah sholat ashar, kami lanjut foto-foto lagi, sambil menuju ke jalan keluar KRB. Tapi misi kita ke KRB belum tuntas, karena kita belum menemukan bunga bangkai.

Dari petugas KRB yang ada di dekat peta masuk, kami diberitahu letak pembiakan bunga bangkai. Kami pun bergegas kesana, dan menerima kenyataan bahwa bunga bangkainya belum MEKAR, jangankan kuncupnya, yang ada dihadapan kami saat itu cuma tanah merah yang bertuliskan papan “bunga bangkai”. Bener-bener ABCD (Adu Bo Cape Deh). Untuk keluar dari KRB, mas Dhanang yang memimpin perjalanan pulang, dengan pedenya mengikuti cewek tak dikenal berbaju kuning yang jalan + 10 meter didepan kami. Dan hasilnya adalah kita nyasar bersama.

 

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hohoho… foto yg maknyuss tuh di depan kafe dedaunan, halamannya ijooo semuah…🙂

    • hehehe… aku lupa ada foto yang full team disitu bungAan

  2. cayang cekali akyu ga bica ikyut… kynya lokasinya keyen buat prewed…😛

  3. nice story..

  4. huehehehe, ga ada gua bisa nyasar juga….

  5. kapan kitah jalan lagih…??
    akuh pengen berkelanah lagih..!! sekali2 ke tempat yang jauh yuks..
    ke luar pulau jawa ini…
    kek ke pulau seribu..jauh banget tuch keknya..!!

  6. pantesan ga makan bubur buah nyasaaar tho hahaha

  7. Ercan : hehehe iya keren ril, cayank kamu ga ikut

    Aci : makasi aci

    linda : ini kita kualat sama elu lin….

    Yanu : yuukk… tapi nabung dari skrg yanu

    Yelli : hehehe iya, ni masi penasaran sm bubur buah… salain dhanang aja yuk….

  8. Yup….gw setuju ama ErCan, lokasinya bagus banget buat nikah sirih sblm nikah di KUA. Gelar tikar minum kelapa muda, bubur rujak and nonton bareng kembang bangkai ha….ha.🙂

    Disini lebih banyak pohon dan lebih banyak burung dan anggrek. KRB gak sebanding sama hutan kalimantan, ada orang utannya lagi.

    Hai Merisk, loe bisa gak menentukan usia pohon dari tampilan fisiknya? tanya gw dong, dayak asli. Cuma agak lama tinggal di Pancoran.

    I. Rokhim

  9. wah ternyata tokek orang dayak juga… gw cuma separo dayak nih… jadi tak paham menentukan usia pohon… tapi bukankah ada pe-pa-tah bilang “dont judge the book by it cover….”

  10. “Aku suka KRB. Gw sering kesana, terasa kembali ke habitat” (baca : kampung halaman gitu loh…).

    Semua latihan Kalkulus gw selesaikan disana.

    Soal buku yang loe maksud gw sering denger tapi belum pernah baca. Sepertinya itu diktat fak. Hukum ya Merisk?

    Ada sebuah buku yang gw suka banget. Kho Ping Ho. Meski sampulnya jelek, tapi isinya bo….Is…is…is…Sedaaaap…

    (“sebenarnya itu buku cerita silat atau resep rendang sih? )

    Augh akh elap..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: