Garuda di Dadaku sinopsis

November 16, 2009 at 4:25 am | In Review | 2 Comments

garuda_didadakuMenjadi pesepak bola hebat, dengan Garuda di dada kiri, itulah mimpi dari Bayu. Bayu adalah seorang anak berumur 12 tahun, yang gemar bermain sepakbola. Namun kegemarannya pada bola, terbentur oleh keinginan sang kakek, Pak Usman. Kakek menginginkan Bayu menjadi seorang yang sukses dan pandai dalam segala bidang, mulai dari akademis, musik, sampai ke seni lukis. Cuma satu bidang yang menurut beliau tidak akan membawa cucunya pada kesuksesan, yaitu bermain bola. Untuk mewujudkan kesuksesan cucunya tersebut, kakek menjadwalkan berbagai kursus pada Bayu, kecuali kursus bermain bola. Namun tanpa sepengetahuan kakek, Bayu selalu bermain bola pada waktu senggangnya.

Dihari ulangtahunnya ke 12, Bayu mendapat hadiah tiket nonton pertandingan sepak bola antara DKI dan Perseba Jatim dari Heri, sahabat karibnya. Meskipun duduk di kursi roda, kecintaan Heri pada bola sangatlah dalam. Heri lihai dalam memikirkan taktik-taktik bermain bola. Mereka menonton pertandingan tersebut ditemani oleh Pak Dullah, supir yang sangat bersahabat dengan Heri dan Bayu. Seusai pertandingan, tanpa sengaja bola plastik yang ditendang Bayu masuk kesalah satu bus tim sepak bola remaja. Kejadian tersebut dilihat oleh seorang pelatih sekolah bola. Tertarik dengan bakat dan kemampuan tersebut, pelatih pun menawarkan agar  Bayu mau bersekolah bola ditempat ia mengajar, SSI Arsenal.

Ketika Bayu dan Heri datang ke SSI Arsenal, Bayu dikejutkan dengan biaya yang mahal. Menangkap pikiran sahabatnya, Heri pun menenangkannya, dan menanyakan adanya program beasiswa ke pelatih. Pelatih menjanjikan akan memberi beasiswa jika Bayu lulus tes yang akan diadakan dua minggu kemudian. Bayu pun berjanji akan menyanggupi tes tersebut, namun ada satu kendala lagi, dia tidak punya tempat berlatih.

Di komplek perumahan mereka tidak ada lapangan bola. Alih-alih mendapat lapangan bola, mereka menemukan lahan kuburan sebagai tempat latihan. Lahan kuburan itu, ditinggali seorang kuncen yang memiliki anak gadis bernama Zahra. Pada awalnya Zahra tidak mengizinkan mereka berlatih, karena takut mengganggu ayah Zahra yang sedang sakit. Heri pun menawarkan bantuan untuk membersihkan lahan kuburan untuk membantu ayah Zahra, dan sebagai gantinya mereka diizinkan berlatih bola. Zahra pun mengizinkan. Dengan latihan yang intensif, Bayu pun diterima di sekolah bola SSI Arsenal dengan program beasiswa.

Rolling rolling rolling rolling, kejarlah semua mimpimu (red. Rolling Ost. Garuda di Dadaku).  Kehidupan Bayu terus bergulir dalam mengejar mimpinya. Masuknya Bayu pada sekolah bola, mendekatkan mimpinya untuk menjadi salah satu pemain nasional U-13. Dibantu oleh Heri, Bayu berlatih dengan semangat namun disisi lain nilai sekolahnya menurun. Tantangan terus bergulir dihadapan Bayu, setelah nilainya menurun. Bayu akhirnya bercerita pada ibu tentang kegiatannya selama ini. Ibu yang pada awalnya kecewa, akhirnya mendukung keinginan Bayu tersebut. Sekarang tinggal kakek dan U-13. Bagaimana Bayu bisa meneruskan kegemarannya bermain bola dihadapan sang kakek? Sedangkan melihat giringan bola Bayu saja, sakit jantung kakek kambuh seketika. Pada akhirnya  kejujuran Bayu menjembatani keseluruhan masalah yang  ada, dan membuat film ini berakhir dengan Garuda di dada kiri Bayu.

 

Kesederhanaan tergambarkan dalam kehidupan Bayu dan sekeluarga. Ibunya bernama Wahyuni. seorang single mother yang bekerja sebagai sales MLM. Kakek Usman sendiri adalah seorang pensiunan Pertamina. Namun dalam kesederhanaan tersebut, sebagai orang tua mereka sangat perhatian akan pendidikan Bayu. Kakek menganggap pendidikan adalah investasi masa depan demi kesuksesan cucunya. Walaupun kurang menyukai kursus yang diarahkan oleh Kakek, Bayu tetap menghormati dan selalu berusaha menyenangkan hati beliau.

Ada satu adegan dimana pak pelatih kecewa dengan Bayu, dikarenakan Bayu mengaku sebagai siswa sekolah bola lain, dan ternyata setelah diselidiki, Bayu bukan siswa sekolah bola manapun. Pak Pelatih yang mengetahui hal tersebut merasa kecewa berkata kepada Bayu dan Heri. “Tidak ada kesuksesan yang diawali dengan kebohongan”. Merasa kesempatan untuk masuk disekolah tersebut memudar, Bayu dan Heri pun mengakui kesalahan mereka. Bayu pun berjanji jika diberi kesempatan akan berusaha semaksimal mungkin, untuk menunjukkan kemampuannya.

Film yang mengedepankan rasa optimis dalam mengatasi segala permasalahan yang ada ini, terasa sangat segar dengan bumbu-bumbu persahabatan yang terjalin antara Bayu, Heri, Zahra, dan juga Pak Dullah. Dalam durasi kurang lebih sembilan puluh menit, penonton akan disuguhkan keceriaan dunia anak-anak dalam menggiring cita-citanya menjadi suatu keberhasilan.

Jalan Menuju Resepsimu

October 14, 2009 at 8:17 am | In hari-hariku | 7 Comments

Sudah jam 10 malam, masih bercengkrama via YM dengan sahabat kecil saya, Rini. Saat itu ibuku memanggil, memberitahu bahwa pagi tadi anis, teman adikku, datang mengantarkan undangan pernikahan Pipit. Kuterima undangan tersebut dari beliau. Berwarna hijau daun, warna favorit Pipit, teman SMA ku, yang juga akhirnya menyusul berkuliah ditempat yang sama. “Alhamdulillah”.

 

Kubuka undangan tersebut. Kemudian mengetahui bahwa acara akan dilangsungkan tanggal 10 Oktober 2009, di rumahnya, daerah gas alam. Segera saya memberitahu Rini, yang saat itu sedang chat dengan saya.

Me: Rin… catet yaaa…. Pipit 39 nikah…

Segera ku ketik alamat yang tertera di undangan tersebut. Dan tidak berapa lama Rini membalas.

Rn: mer, tanggal 10 kan besok…!

Continue reading Jalan Menuju Resepsimu…

Hai Gadis…!

August 20, 2009 at 9:03 am | In hari-hariku | 9 Comments

Pasar Minggu. Rabu 200809, penumpang itu.

Kulihat ia. Gadis, kuanggap saja dia masih gadis. Manis tinggi semampai, rambut ikal, mengenakan blazer, tas yang cantik, sepatu yang cantik, dan membawa map. Continue reading Hai Gadis…!…

Situasi Angkot Tak Menentu

August 11, 2009 at 1:42 am | In hari-hariku | 12 Comments

Senin 100809. Lepas Isya aku pamit dari kos sahabatku. Perjalanan Kalibata ke Pasar Minggu, kutempuh dengan menumpang metromini 604, bayar dua ribu rupiah, dan seperti biasa jalanan macet. Lancarnya jalan raya Pasar Minggu, benar-benar bisa kuresapi saat aku pulang dari kantor jam 00.30 a.m. Selebihnya, belum pernah lagi terasa selenggang itu. Kunikmati saja jalan yang tersendat dengan membaca sebuah novel. Membaca dengan pencahayaan metromini yang meremang. Continue reading Situasi Angkot Tak Menentu…

Bukan Resensi Drunken Molen

June 10, 2009 at 3:49 am | In Review | 2 Comments

Drunken Molen

Diary Pidi Baiq yang terbukukan yang kupinjam dari seorang pemuda bernama Yanuar Syapaat.

 

drunken-molenDilihat dari judulnya… lucu

Dilihat dari covernya… menarik

Dilihat dari komentar-komentar pembaca pertamanya… menyedihkan

 

  Continue reading Bukan Resensi Drunken Molen…

Bosan

May 13, 2009 at 4:31 am | In hari-hariku | 2 Comments
Tags:

Rabu 130509, hari ini belum selesai, masih 12,5 jam lagi menuju pergantian hari. Tapi gw udah berasa kebalikan dari lagunya Vidi Alviano, bukan lagi Nuansa Bening, tapi Nuansa Buthek.

Drama Kehidupan

April 20, 2009 at 1:41 am | In hari-hariku | 12 Comments

Sabtu pagi 180409 di warnet Mozaik, Kober-Depok, menemani Rini yang sedang browsing nama-nama pemenang grammy, Panasonic, Oscar, dan award-award lainnya. Gw sendiri asyik membuka facebook, chatting ga jelas, sambil menyedot teh Apel dan makan burger, yang ukurannya cukup besar. Tidak berapa lama cowok yang nge-net dibelakangku mengangkat telepon dengan nada teriak-teriak. “KAMU KECOPETAAAAAAAAAAAN ^%$^&%$#%$(*&(&&^%#!!!!!… …. …. ….AKU DI WARNET MOZAAAAAIIKKKK…. ITULOH YANG DIKOBER….!!!… WARNET BIASAAAA SAYAAAANG!!!.. .@#@&^%^$%###!….!!! YA UDAH AKU KELUAR..&^%#$#^#$!!!!!” Continue reading Drama Kehidupan…

Slumdog Millionaire

March 11, 2009 at 9:09 am | In Review | 17 Comments

Berawal dari sebuah status di Facebook, yang menyatakan keinginan untuk menonton Slumdog Millionaire, dan dikabulkan oleh seorang Bunda yang sangat baik hati. Terimakasih Bunda ^_^!

 

Slumdog Millionaire, kukira hanya sebuah film india underdog yang tidak menarik untuk dilirik sekalipun. Menjadi tertarik ketika adikku berkata film ini bagus. Jarang-jarang adikku mengatakan suatu film bagus, dan dengan lancar menceritakannya kembali. Kemungkinannya cuma satu, film ini sangat bagus dan sangat berbekas di alam sadarnya.

Slumdog Millionaire, menceritakan seorang Jamal, penyaji teh, di sebuah perusahaan komunikasi, yang menjadi peserta Who Wants to Be a Millionaire. Namun, kecurigaan pembawa acara akan ketepatan Jamal menjawab, membawa Jamal pada kamar tahanan. Dan kemudian, dipaksa mengaku bahwa Jamal menjawab semua pertanyaan tersebut secara curang.

Slumdog MillionaireCerita bergulir dengan alur flash back, disetiap Jamal menjawab pertanyaan mulai dari pertanyaan pertama sampai dengan pertanyaan terakhir. Tidak perlu menjadi pintar, untuk mengetahui suatu jawaban, hanya karena tahu. Tiap pertanyaan menguak latar belakang getir kehidupan Jamal semenjak ia kecil. Continue reading Slumdog Millionaire…

Lihat KebunKu Penuh dengan Bunga

February 23, 2009 at 10:59 am | In Uncategorized | 11 Comments

Sabtu (140209) kemarin, gw jalan-jalan dalam arti denotatip. Bener-bener JALAN JALAN. Sudah sejak seminggu, gw dan teman-teman berencana untuk jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Pilihan jatuh ke Kebun Raya Bogor (KRB) karena:

  1. Mas dhanang pengen liat bunga Bangkai
  2. Achi, pengen makan di kafe DeDaunan
  3. Gw, pengen minta ditraktir (hehehehe gak mutu banget motivasi gw)

Setelah mengajak dan membujuk, akhirnya yang positif akan ikut adalah Mas Dhanang, Achi, Yanu, dan Pare (my sis), hanya berlima. Kiki secara tentative menyatakan ingin ikut, tapi gak tau jadi apa nggaknya. Aan, setelah gw panas-panasin bahwa di KRB dia akan menemukan teman seperBungAan seperti bunga Bangkai, tetap teguh pada pendirian untuk lembur di hari sabtu (poor you). Eril tidak bisa ikut karena ada rencana menyiksa diri untuk kecantikan (facial). Dan Anjas, lagi-lagi tak bisa ikut karena terdampar di Balongan. Tadinya gw mo ngajak Rini (temen SD ku) untuk ikut, tapi beliau sudah ada acara. Continue reading Lihat KebunKu Penuh dengan Bunga…

Kegiatan dan Obatnya

February 23, 2009 at 3:41 am | In Uncategorized | 10 Comments
  1. Maen sama kucing, resikonya bengek, bisa diatasi dengan obat asma dan buang kucingnya
  2. Belajar aikido, resikonya encok, bisa diatasi dengan koyo cabe
  3. Jadi guru honorer, resikonya pusing, bisa diatasi dengan pentogin dan neuralgin
  4. Naik kereta, resikonya mual-mual kalo sumpek, bisa diatasi dengan sedia minyak wangi
  5. Main hati, resikonya sakit hati, bisa diatasi dengan berbaik hati
  6. Makan sambil ngobrol, resikonya banyak sendawa dan buang angin, bisa diatasi dengan menuduh orang lain yang melakukan
  7. Dengar musik lewat earphone kelewat keras, resikonya kuping berdenging, bisa diatasi dengan tidak mendengarkan musik via earphone seminggu
  8. Membaca buku di tempat gelap, resikonya mata cepat lelah, bisa diatasi dengan tidur sajah
  9. Belanja, resikonya uang habis, bisa diatasi dengan ngutang atau minta beliin
  10. Karaoke terlalu semangat, resikonya suara menjadi serak, bisa diatasi dengan pilih lagu2 rock
Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.